Saya teringat dengan salah satu materi praktikum Biologi saya di SMA. Praktikum dengan judul “Uji Coba Protein”. Salah satu materi praktikum yang paling banyak disebutkan dalam doa siswa yang akan menghadapi ujian praktikum saat saya kelas 3 SMA. Kami semua berdoa semoga hasil undian kami adalah uji coba protein, karena praktikum ini terhitung mudah.
Mudah, karena saat saya sedang melakukan praktikum uji coba eosin, berjuang sembari berlinangan air mata mengambil jangkrik dari kandang jangkrik super besar (sereuslah bu, kenapa ga disediakan saja 2 jangkrik untuk saya, udah duduk manis di dalam plastik tinggal saya timbang dan masukin tabung, terus saya hitung laju kecepatan eosinnya?, kenapa juga sekandang2nya lo bawa ke ruang ujian?), teman saya yang dengan beruntungnya mendapatkan materi ujian praktikum uji coba protein, dengan santainya menteteskan zat ini dan itu ke tabung2 reaksi.
Pada ujian praktikum itu, teman saya menghabiskan waktu tidak sampai 5 menit. Saya? 1 jam, plus dimarahi guru biologi sepanjang proses karena masa jadi anak IPA megang jangkrik aja takut?. Gue mati2an nahan diri ga menyodorkan jangkrik ke mukanya dan bilang “silakan dimakan”, dan kalau dia misuh2 karena tiba2 disuruh makan jangkrik, gue akan bilang “masa jadi guru kelas IPA ga bisa makan jangkrik?” biar dia ngerti kalau teori dia tentang IPA dan jangkrik, sungguh jaka sembung bawa golok, alias : ga nyambung, GOLOK!. *diperhalus*. Tapi Alhamdullillah ga gue lakukan, selain tahu bahwa itu berisiko tinggi (gak lucu kalo ga lulus SMA gara2 jangkrik), ngambil 2 jangkrik aja gue udah mau mati, mau suruh gue ngambil satu lagi? biar Tuhan aja yang bales kalo gitu caranya.
back to topic. Pada uji coba protein, kita diberikan beberapa zat, zat2 ini dimasukkan ke dalam beberapa tabung reaksi. Selanjutnya tabung2 yang berisi zat tersebut akan ditetesi dengan suatu zat. Reaksi2 yang ditunjukkan dari hasil pencampuran zat2 tersebut, akan menunjukkan yang mana zat yang merupakan protein dan mana yang bukan.
Saya selalu berpikir, bahwa in order untuk mengenal diri sendiripun, kita harus melakukan uji coba senada. Mencoba ini dan itu, lalu membandingkan reaksi yang terjadi, dari sanalah kita bisa mengetahui, individu seperti apakah kita ini. Apa yang kita suka, apa yang kita benci, apa yang kita harapkan, apa yang membuat kita sedih, apa yang membuat kita bahagia, sampai sejauh mana kita bisa bersabar, dan masih banyak lagi.
Yang jelas, setiap uji coba meninggalkan bekas. Tapi setiap uji coba, selalu memberikan informasi berguna, informasi yang dapat memberitahu, zat seperti apakah kita ini. Meskipun kadang mengenal diri sendiri bukanlah hal yang menyenangkan. Meskipun kadang menahan malu karena mengetahui diri ini tidak sempurna, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Meskipun kadang, kita membenci diri sendiri, jauh di atas kebencian kita akan apapun,
Mengenal diri sendiri adalah hal yang baik. Menerimanya dengan lapang dada adalah hal yang terpenting.
Karena hanya dengan mengenal dan menerimanya lah, kita bisa memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan.
berbahagialah orang2 yang mengenal dirinya sendiri dengan baik
Jadi, sudah sejauh mana ‘uji coba protein’ anda?
Manda.






March 9th, 2009 at 12:17 pm
aaarrrrgggghhhh!!!!
manda curang.. katanya gak mo posting 3 minggu..
ne dah bejibun postinbgnya..
jadi kelewatan semua deh kan…
untunglah jadi pertamax nie
hm.. uji protein..
gw dolo disuruh pake telor yach… hahahahahaha
jadi item2 gt tu telor
serem liatnya
March 10th, 2009 at 10:42 am
“uji coba protein” yang gw lakukan masih disitu2 aja, belum keluar hasilnya…kalaupun ada gw malah bingung. apakah positif palsu?
May 21st, 2009 at 9:24 pm
Gitu ya…
(si pengomentar terdiam sembari mencari lagi langkah kerja kandungan protein)
February 8th, 2010 at 2:27 am
Posting yang menarik,,,
bagus bagus,,,
INSPIRATIF,,,