Puzzle.

curhat bebas T-T. aku tak peduli kalau habis ini pamorku terjun bebas *apa sih kayak berpamor, lagian kalo iya, nampak sudah telat untuk memikirkan pamor*. :D. Ini nulisnya seminggu yang lalu di notepad :P pas mood lagi down2nya. baru sempet posting sekarang. monggo dibaca.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kabar yang sangat buruk. Buruk, karena kabar itu merusak seluruh rencana yang sudah saya buat *kebiasaan jelek : ga ada plan B*. Buruk, karena untuk beberapa alasan, saya merasa dicurangi, dan salah dimengerti, namun saya tidak mengerti bagaimana membuat mereka mengerti. Saking buruknya, saya sampai tidak berani menceritakannya dengan orang-orang terdekat, hanya karena, saya takut membuat kecewa dan karena, saya tak ingin disalahkan. Buruk karena, saya takut kejadian ini akan menjadi trauma, karena saya tahu, saya ini orang yang gampang sekali tersakiti, dan kalau sudah sakit, saya sulit untuk percaya lagi. Buruk karena, pada satu titik, saya merasa sangat lelah, ingin menjalani hidup yang tenang2 saja, tapi saya tak tahu caranya dan tak tahu lagi bagaimana memintanya.

*baru satu paragraf udah banjir air mata*

……. T-T

*merasa konyol (masih nangis)* huuu….. ~

…waktu kecil dulu, saya selalu menangis diam2 kalau ada yang mengganggu hati. Untuk beberapa alasan, saya merasa, kalaupun saya memberitahukan apa yang membuat saya sedih, toh tidak akan ada yang bisa membantu, malah mungkin saya hanya akan membuat masalah tersebut semakin buruk. Jadi saya hanya memperhatikan dan berusaha untuk diam.

Kadang, di siang hari sepulang sekolah saat hanya ada saya dan pengasuh di rumah, saya bermain boneka atau masak-masakan sendirian, dan saat pengasuh saya tertidur (harusnya saya yang tidur siang, tapi gak pernah bisa) saya berhenti bermain dan memandang langit dari jendela kamar. Hijau dari dedaunan pohon di pekarangan, birunya langit, putihnya awan, dan kadang disertai semburat kuning dan abu-abu, bila senja menjelang. Saya memandang semuanya sembari dalam hati memanggil-manggil, “kapan datang? kenapa lama sekali?” tapi saya tak pernah tahu apa yang saya tunggu. Ada yang hilang, ada yang kurang, tapi saya tak pernah tahu apa. Ada yang saya inginkan, tapi apa? rindu akan apa?

Sampai sekarangpun saya masih berada di posisi yang sama. Dalam hati memanggil-manggil saat memandang langit, memandang laut, memandang bintang, memandang manusia berlalu lalang, tapi tak tahu siapa, tak tahu dimana, tak tahu kemana, tak tahu bagaimana, tak tahu apa. Yang saya tahu, ada yang salah, ada yang kurang, ada yang kosong, tapi saya tak tahu bagaimana menghilangkan perasaan tersebut.

Kalau dipikir2, jangan2 sejak kecil saya ini udah sakit jiwa ToT *masih nangis + miris, tapi ga heran* tapi saya benar2 merasa begitu.

Tapi sedikit demi sedikit, sejalannya bertambah umur, saya tahu bahwa, ada beberapa hal yang bisa mengalihkan pikiran saya dari kebingungan saya tersebut.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah terpuruk karena masalah persahabatan. Saat mental saya sedang rendah2nya, saya mendapat kabar buruk tentang nasib akademik saya. Saking sedihnya, dan saat itu sedang tidak ada yang bisa diajak bicara, saya mengurung diri di kamar kos selama 3 hari. Keluar hanya untuk makan dan ke kamar mandi, sisanya saya habiskan menangis di kamar yang gelap. Saya menangis sampai kepala saya pusing, lalu tanpa sadar saya tertidur, saya terbangun karena lapar, makan, ke kamar mandi, lalu masuk kamar dan menangis sampai pusing dan tertidur lagi, begitu terus.

Di hari ketiga, Darpit dan Darcil (waktu itu udah ada di Kosan Mesy*m, baru aja pindah) mengetuk pintu kamar saya dan meskipun saya sempat beralasan supaya saya tak perlu membuka pintu, mereka memaksa. Jadi saya mempersilakan mereka masuk, dan merekapun bertanya saya ada masalah apa. Kami bertiga duduk di atas kasur saya, dan saya bercerita sambil menutup muka dengan bantal, malu kalau ketahuan saya habis dan sedang menangis. Rasanya ingin bercerita sedikit saja karena malu dengan kebodohan yang saya lakukan, namun tanpa sadar semuanya tertumpahkan. Dan meski mereka tak bisa menghilangkan masalah saya, saya merasa lega, karena ada yang mau tahu, ada yang mendengarkan dan berusaha menenangkan saya dan memberitahu bahwa, semua masih baik2 saja, bahwa tak ada yang kecewa, tak ada yang salah, yang saya perlu lakukan hanya bertahan dan berpikir jernih.

Selama waktu senggang itupun (SKS saya dipotong tahun itu, jadi jam kuliahnya sedikit sekali) akhirnya saya memutuskan untuk banyak-banyak mengambil kursus. Saya mengambil 3 kursus bahasa, inggris, perancis, jepang. Namun dari semuanya, yang paling banyak menyita hati dan pikiran saya, bahasa jepang :). Yang bisa sesaat menarik saya dari pikiran2 buruk saya selama itu, adalah kelas bahasa jepang.

*ironis karena meski udah ampe level 4, sekarang saya dah agak2 lupa, entah kapan mau nerusin lagi, masih gape kok ;) huhu*

Lalu, setelah itu, keadaanpun berubah2, kadang baik, kadang buruk, berkali-kali ingin drop out saja dari kuliah saya tersebut karena bukan minat saya, berkali-kali terjatuh, lalu harus mengerahkan tenaga untuk bangkit kembali, kadang bisa saya lewati dengan baik, kadang saya harus meminjam kekuatan sahabat2 saya. Namun saya merasa lebih ringan saat saya sudah mengenal blog. Kalau sedih, ataupun senang, saya tinggal menyimpan semuanya dalam bentuk tulisan di blog, dan bebanpun sedikit banyak hilang, saya bisa berpikir lebih jernih setelah itu.

Tiba2 saja terpikir sebuah cerita, bahwa mungkin saja sebenarnya, seorang manusia, saat rohnya dikirim ke dunia dan untuk pertama kalinya menghantam bumi, beberapa bagian dirinya akan hilang berhamburan di seluruh penjuru alam karena Tuhan melemparnya dengan kekuatan sangat cepat *pikiran gila*. Oleh karena itu, untuk mengetahui siapa dirinya seutuhnya, manusia itu selama hidupnya, harus berani berjalan, menjelajah ke tempat2 yang indah maupun buruk, senang maupun menyedihkan, untuk mencari kepingan2 dirinya yang hilang. Selama mencari, ada kalanya bertemu dengan kepingan yang tepat, ada kalanya tidak tepat, ada kalanya dia berharap bahwa ini kepingan yang tepat ternyata tidak, ada kalanya dia berharap itu bukanlah kepingan miliknya, ternyata itulah kepingan terbesar yang pernah dia temukan.

Sulit dan menyebalkan, kadang rasanya lelah karena berkali2 sakit hati dan takut melangkah, namun dalam hati tahu bahwa dia ingin menemukan seluruh kepingan yang hilang, karena perasaan saat menemukan satu keping yang cocok, sekecil apapun itu, adalah perasaan bahagia yang tidak tertahankan.

Keping2 itu dapat berbentuk apa saja, bisa saja hobi, atau orang2 berharga, bisa juga berupa penyesalan yang berbuah pelajaran, bisa bekas luka, trauma yang sudah dilewati, apapun itu, itulah yang nantinya akan membentuk manusia tersebut, kepingan2 tersebut memberitahu siapa dirinya sebenarnya, sehingga ke depannya dia bisa berjalan lebih bijaksana dan tenang, karena dia mengenal dirinya dengan baik, lebih baik daripada sebelumnya. Dan bila suatu hari nanti dia sudah tidak berada di dunia ini lagi, dia dapat tersenyum dengan lega, karena sedikit banyak, dia sudah menemukan kepingan2nya yang hilang, dan diapun dapat berbagi cerita pada Tuhan, malaikat dan orang2 terdahulu, siapa dia sebenarnya.

*mampus ceritanya najis sok serial cantik banget T-T, kok gue kepikiran sih*

Bagi saya mungkin, beberapa kepingan itu adalah blog, bahasa jepang, dan sahabat. Kalau saya tidak pernah terjatuh dan merasa sakit, saya tidak akan pernah menemukan 3 kepingan tersebut. Dan mungkin rasa sakit dan kecewa ini yang saya rasakan sekarang, adalah jalan untuk menemukan kepingan yang lain.

Berarti saya harus kuat dan bertahan dengan baik ya. Mungkin saat ini memang saya sedang menggenggam kepingan yang salah di tangan, dan sedang memegang sebuah kepingan yang benar di tangan yang lain, namun saya belum menyadarinya. Yang perlu saya lakukan adalah membuang keping menyakitkan tersebut, melupakan, memaafkan, mengobati luka, dan berusaha berkonsentrasi dengan keping yang baru. Tak ada yang terbuang sia2, tak ada yang salah, karena kalau saya tak pernah terluka, saya tak akan pernah menemukan kepingan saya yang lain.

Kalau dulu saya hanya menunggu di balik jendela, sekarang mungkin saya sendiri yang harus berlari mengejarnya. :)

Meski sudah kehilangan banyak kepingan belakangan ini, saya rasa itu lebih baik daripada bertahun2 merasa hidup dengan kepingan yang tepat, padahal tidak :).

Lega. :). Untunglah saya punya blog.

Semoga teori kepingan ini ga terlalu dangdut *kawatir diledekin*.

Semoga kalianpun bisa menemukan kepingan-kepingan kalian ya :),

Manda.

4 Responses to “Puzzle.”

  1. jagoan Says:

    Life is a jigsaw puzzle to be completed.

  2. JeNdRaLKuCinG Says:

    man.. aq dari tadi bacanya terpikirkan sesuatu…

    kabar buruk nya apa yach man????

  3. Mandhut Says:

    @ jagoan : can’t agree more

    @ JK : not telling :P *hahahaha* nanti deh diceritain di postingan kapan2 ;))

  4. READY TO EXPLODE….!!!! « Ladybugintherain’s Blog Says:

    […] http://mandhut.com/blog/?p=567 […]

Leave a Reply