pilihan.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan untuk mengobrol dengan seorang teman lama. Seorang teman yang beberapa tahun belakangan ini mulai menjadi jauh karena satu dan lain hal. Tapi ibarat reuni, malam itu, meski hanya lewat chatting seru di Yahoo messenger, entah kenapa saya merasa senang, ada sedikiit perasaan kangen dengan gaya bicara dan sifat orang ini *SEDIKIT LOH YA - gengsi parah* . Seiring waktu berjalan, amarah bisa mereda, tapi kenangan indah dan perbuatan baik memang akan selalu tertinggal di hati ya :D *berasa malu karena dangdut sendiri*. Akhirnya, kami bisa sedikit berbagi cerita dengan hati yang lebih ringan. Yah memang tidak seintens dulu, tapi jauh di dalam hati saya percaya bahwa saya akan selalu mengenal orang ini dengan baik, meski kami tidak menjalani hari bersama2 lagi :D.

Dari pembicaraan di Y!M itu juga, akhirnya saya mengetahui bahwa, sejak beberapa bulan yang lalu, dia memutuskan untuk berganti keyakinan :). Dan belakangan, dia terpaksa menghapus beberapa account networking-nya karena merasa risih dengan pertanyaan2 orang yang memberi komentar pada keputusannya itu, baik komentar netral, ataupun komentar yang menghakimi.

Bahkan, pada menit2 pertama chatting-an dia sempat curiga saya akan menanyakan hal yang sama, tapi saya tidak datang untuk berkomentar. Bahkan kalau boleh jujur, saya tidak ingin berkomentar. Bagi saya, asal orang ini bahagia itu sudah cukup. Kalau memang dengan berganti keyakinan hatinya menjadi sedikit lebih lega, yasudah. Kalau dengan berganti keyakinan, hidupnya menjadi terasa lebih indah, yasudah. Saya cuma perlu tahu bahwa dia merasa lebih baik, dan itu cukup.

Sama seperti saat teman saya come out of the closet soal sex preference-nya. Atau saat teman saya memutuskan untuk memutuskan pertunangan dan menjalin hubungan dengan pria lain yang jelas2 tidak akan disetujui keluarganya.

Saya hanya mendengarkan. Saya tidak melarang atau menghakimi. Semua karena, saya percaya mereka sudah tahu dengan konsekwensinya. Atau kalaupun mereka tidak benar2 waspada, dan mereka tersakiti, itu juga bukan sesuatu hal yang buruk. Karena mereka akan belajar dari situ, dan mereka akan jadi individu yang lebih baik lagi, serta akan lebih ‘hidup’. Karena mereka mendapatkan sesuatu yang tidak semua orang alami, yaitu pengalaman. Manusia bisa menjadi benar2 bijak karena mereka telah mengalami berbagai macam hal kan? :) 

Mungkin karena saya sendiripun selama hidup bukanlah orang yang berjalan dengan cara yang “lurus2 saja” *berasa anak koboi* oleh karenanya saya mudah bertoleransi untuk hal seperti ini. Semuanya semata, karena saya pernah melihat maupun mengalami. Dan saya tahu bahwa kadang, hati ini bisa menjadi sangat pedih sekali, sangat pedih sampai kita hampir putus asa, lalu kita menemukan suatu jalan yang tidak diduga2. Dan kita mengambilnya tanpa pernah peduli lagi, karena semua orang yang pernah terpuruk tahu bahwa, salah satu hal yang bisa mengurangi kepedihan di hati adalah membuka pintu yang baru dan terus berjalan, berjalan dan berjalan, hingga suatu hari nanti kita sadar bahwa, kepedihan itu sudah hilang, tapi kita tak pernah tahu sejak kapan.

Pada saat itu, yang diperlukan hanyalah harapan. Dan tempat lain, teman lain, lingkungan lain, sarat akan harapan bukan? :). Memang kenyataan tidak selalu berkata bahwa harapan kita akan menjadi kenyataan, tapi keberanian untuk berganti suasana itu saja sudah menyembuhkan secara psikologis loh.

Beberapa teman saya pernah membahas akan ‘pilihan’. Bukan hanya soal berganti keyakinan, tapi soal banyak hal. Sebagian dari mereka bertindak menentang dan melarang karena takut ikut berdosa, karena sudah mengetahui tapi memutuskan untuk tidak peduli. Sebagiannya lagi adalah yang benar2 merasa apa yang mereka anggap benar adalah benar, dan semuanya yang di luar itu adalah salah. Sisanya, orang2 yang tidak berbuat apa2 dianggap egois dan memikul sedikit dosa dari hal itu karena tak berbuat apa2.

Tapi entah kenapa, pendapat saya berbeda.

Saya merasa, kalau kita menentang dan melarang seseorang berbuat sesuatu karena kita takut berdosa karena tidak berbuat apa2, itu juga salah satu bentuk keegoisan. Lalu, menganggap dirinya paling benar, itu juga bukan sesuatu yang baik. Sama halnya dengan orang yang tidak peduli, mungkin itu salah satu bentuk keegoisan, tapi jelas bukan semuanya kan?

Tak semua hal yang kita anggap buruk, adalah benar2 buruk. Dan semua yang dianggap baik, adalah benar2 baik.  Yang tahu cuma Yang di Atas kan? jadi kenapa kita harus ikut2an menghakimi? setiap individu, memiliki jalan takdirnya masing2, dan semuanya sudah direncanakan dengan baik oleh Yang Maha Kuasa, jadi kenapa harus ribut2 ikut campur?

Saya merasa, saat kita peduli akan seseorang, dan kita ingin menjaganya dengan baik. Jalannya bukanlah dengan menghakimi dan melarangnya, bukanlah dengan memaksakan mereka berpikir dan bertindak layaknya kita, apalagi dengan berdalihkan tradisi, norma, peraturan. Saya merasa, menyayangi dan menjaga seseorang adalah dengan memberikannya kebebasan berpikir dan bertindak, memberitahukan konsekwensi saran dan pendapat, percaya dengan kemampuan mereka, pasrah dengan kemungkinan2 di masa depan tanpa membebani diri dengan rasa bersalah atas apa yang mereka pilih, terus mendoakan mereka yang terbaik, dan yang terpenting dari semuanya,

Memberitahu mereka bahwa kita akan selalu ada, dan kita akan selalu mengerti bahwa mereka sedang belajar, sama seperti kita. Oleh karena itu, tidak perlu malu, curiga atau marah, karena tidak ada yang salah ataupun benar, hanya pengalaman, hanya hidup. Mereka bisa kembali ke pilihan lama, atau tetap pada pilihan mereka, tapi itu tidak akan pernah mengubah anggapan kita tentang mereka.

Hidup akan terasa lebih menyenangkan dan lebih kuat, kalau kita bergandeng tangan, jadi kalau memang tidak ada masalah yang benar2 internal tentang hubungan tersebut, kenapa harus menghakimi dan berpisah hanya karena salah seorang membuat pilihan yang berbeda?

Saya berpendapat, manusia harus malu bukan karena pilihan2 yang mereka buat. Tapi mereka harus malu kalau mereka tidak berani menanggung resiko dari pilihan mereka :).

DAN quote itu baru saja menohok diri saya sendiri *ketawa2 miris sambil jambak2 rambut*

Back to topic, saya tidak tahu dengan yang lainnya, tapi saya membayangkan suatu hari di masa tua, saya orang2 yang saya sayangi, kami akan minum teh bersama2 dan tertawa terbahak2 mengenang masa lalu, saling bercerita tentang pengalaman masing2 layaknya veteran perang yang memamerkan bekas luka. Kami akan sama2 merasa bersyukur karena masih bisa bertahan, dan merasa bangga karena kami sudah hidup dengan berani, berani tampil menjadi diri sendiri di dunia :).

tidak ada salahnya hidup berani kan? :)

Manda.

6 Responses to “pilihan.”

  1. Juminten Says:

    “…layaknya veteran perang yang memamerkan bekas luka”
    doh, bahasanya dalem banget! ^_^
    iya, aku sependapat sama kamu, man. setiap orang mestinya punya hal penuh atas pilihan hidupnya. sekaligus berani bertanggung jawab atas segala konsekuensinya.
    sebagai orang lain (dari yg membuat pilihan), biasanya aku hanya sekedar mengingatkan akan konsekuensi2nya.
    karena manusia sering kali lupa dan terbuai dgn masalah dan kesenangan yg tengah mereka alami.

  2. Mandhut Says:

    @juminten : nilaaaaa kangen *peluk*
    loh tapi biasanya orang2 tua emang gitu kan. pas masa tuanya ya tinggal nginget2 kenangan masa lalu aja. Yang buruk diketawain, yang bagus dibanggain, intinya, at the end, semuanya ya cuma pengalaman, supaya belajar. :D.

  3. jagoan Says:

    Tapi, kalau teman kita PILIH ke jalan yang jelas-jelas salah (seperti narkoba) apakah kita ikhlaskan saja?

  4. -084- Says:

    “Saya merasa, kalau kita menentang dan melarang seseorang berbuat sesuatu karena kita takut berdosa karena tidak berbuat apa2, itu juga salah satu bentuk keegoisan.”

    Mnurut gw ngga gitu nda,,bukankah teman yang baik adalah “Mendukung ketika dia benar,,memperingatkan ketika dia salah” ??

    ketika teman kita berbuat yang salah,kita seharusnya memang memperingatkan,,but that’s our line..ketika dia tetap pada pendiriannya,, tidak mengikuti nasehat kita, kita jangan menjauhi, menjelek2kan atau malah memusuhi. karena bagaimanapun keputusan ada di tangannya.

    Memperingatkan: Ya..

    Memaksa untuk bertindak n berpikir seperti kita, No.

    Bukannya itu gunanya teman?

  5. roberto Says:

    set dah… panjaaaannngg. :P

    tak ada salahnya hidup ‘berani’, yang penting ‘berarti’… karena hidup ini hanya sekali. :D

  6. Mandhut Says:

    @jagoan : well kalo gue, dibilangin aja, dikasitau kalo itu salah, bisa merusak sel otak dan blablabla, dan bertanya emang kenapa mau pake narkoba, biar mereka ga merasa dihakimi, tapi berasa dimengerti juga. tapi keputusan tetap di tangan dia kan? = =. bukan berarti dibiarin aja, tapi dikasi kebebasan buat memilih. karena itu hidup dia.

    @084 : loh itu juga inti dari apa yang gue tuliskan ogiboy :)). kalo emang ngebilanginnya karena care, karena sayang, ya oke. tapi kalo hanya karena takut ikut dosa, gue ga merasa itu tulus enough, malah lebih ke egois. intinya kalo cuma ngebilangin karena takut ikut dosa, mereka cuma ngomong supaya orangnya berubah kan, cuma ga peduli apa alesannya. that’s not fair :)

    @ roberto : panjangan balada kunang2 kale. setojo!

Leave a Reply