
Saya memiliki beberapa blog favorit yang selalu saya kunjungi secara berkala selama 3 tahun saya menjadi blogger, dan meskipun saya tidak selalu meninggalkan jejak untuk setiap postingan yang saya baca, tapi hampir pasti saya selalu mengikuti perkembangan si mpunya blog tersebut
*karena kadang benar2 tidak tahu mau komen apa ya, kalo asal komen macam “pertamaaaxx”, “sip gan”, “sundul, gan”, “sikut, gan” <-ada ga sih :)), dan teman2nya entah kenapa berasa kurang sopan - in my opinion loh ya*. Karena itulah, meski belum tentu pernah bertemu langsung, atau tak pernah ngobrol baik dunia nyata atau dunia maya, atau hanya bertemu setahun sekali di pesta blogger saja *belagu padahal datengnya 08 doang, yang 09 kelupaan, wkwkwk*, blogger2 ini sudah terasa sangat dekat di hati.
Saat saya tahu seorang blogger favorit dinyatakan mengandung, sayapun ikut senang. Yang lainnya mendapatkan pekerjaan baru yang diimpikan, saya ikut bersyukur. Atau sayapun bisa terpukau sekaligus iri melihat cerita blogger lain yang dengan beraninya memutuskan untuk menjadi sukarelawan bukan hanya untuk hitungan bulan, tetapi tahun. Somehow, mereka selalu dapat memberikan saya inspirasi. Mengingatkan bahwa, semuanya mungkin, selama masih ada kemauan, semuanya mungkin selama masih ada sahabat2 untuk bertukar pikiran dan pengalaman, blog adalah salah satu contohnya *ahahah*.
Nah, salah satu blogger favorit saya belakangan ini postingannya selalu membuat saya tersenyum2 adalah seorang blogger yang notabene adalah teman SMP saya dulu. Yang belakangan mulai terbuka mengenai kisah cintanya
yang manis dengan caranya sendiri. Semua perempuan memiliki caranya masing2 dalam mengekspresikan kebahagiaan, untuk teman saya yang memang mengambil gelar di bidang jurnalistik ini, cinta diungkapkan dengan tulisan. Tulisan yang indah, jauh dari gombal, dan jujur. Sangat jujur sampai membuat saya ikut tersipu, padahal subject yang dibicarakan bukan saya *haiyaa*
Dan tiba2, cerita2 tersebut membuat saya teringat akan kisah cinta saya sendiri. Yang kisahnya selama ini ibarat kunang2. Bersinar terang, indah menghiasi malam, perasaan ini seakan melambung tinggi, namun masa hidupnya tidak lama :D. tidak pernah lama.
Entah kenapa setelah semua yang dialami, yang sebagian besar masih terasa sangat konyol itu *jambak2 rambut*. Di satu titik, saya berhenti mencoba. Saya lelah tersakiti dan disakiti. Saya lelah berpikir terlalu sulit. Saya lelah menjelaskan. Saya lelah berusaha. Saya lelah berbuat salah. Saya lelah merasa bodoh. Saya lelah.
Layaknya sebuah album kenangan yang saya tutup rapat2 lalu saya taruh di sudut terdalam gudang di otak saya. Saya tak ingin sengaja mengingatnya. Saya tak ingin melihatnya. Saya tak ingin menambahkan kenangan dulu disana. Saya tak siap. Saya merasa ada yang salah di dalam diri saya, ada masalah yang harus saya pecahkan terlebih dahulu, sebelum saya keluar ke dunia dan diberi tanggung jawab untuk menjaga perasaan seseorang yang berharga. Ada yang harus saya temukan terlebih dahulu.
Tapi as usual saya belum tahu apa -_-.
Kata seorang sahabat, itu hanya sisi drama queen saya yang bicara. Kata sahabat yang lain, saya ini aneh, yang simple selalu dibuat ribet.
tapi yang dirasakan, benar2 tak sesimpel itu. dan memang ribet. saking ribetnya ampe pusing -_-.
Selama hidup, ada 2 orang yang benar2 saya anggap berharga dan saya sayangi sebagai seorang pria, bukan sekedar teman, bukan sekedar idola kecengan semata.
Dulu saya pikir, ada baiknya mencari orang yang memiliki sifat berlawanan dengan saya. Supaya bisa saling mengisi. Supaya ada yang bisa melakukan apa yang tak bisa saya lakukan, vice versa. Namun ternyata yang dibutuhkan bukan hanya itu. Ada yang salah, ada proses yang terlewatkan, proses yang sangat krusial. Dan sayapun mengatakan pada diri saya, kalau sampai suatu hari nanti saya bertemu orang lain lagi, saya akan mengenalnya dengan baik terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan. Yang pertama ini, meski sakitnya bukan kepalang di akhir, namun saya cukup bersyukur dengan kisah awalnya yang persis kayak serial cantik. Thanks to me dan sifat saya yang norak ini. Ada kenangan manis *baca : KAMPRING* yang bisa saya bagi ke anak cucu nanti :)).
Yang kedua tidak se-serial cantik itu karena saya sudah dalam mode kunang2 skeptis ya *apa sih kunang2 skeptis = =*. Tapi yang ini, paling tidak bisa dilupakan. Meski saya terlihat tidak peduli, meski saya tidak terlihat sakit hati, meski yang terlihat kecewa bukan saya, namun yang ini paling tidak bisa dilupakan. Waktu itu saya berdoa di bulan Ramadhan. sebenarnya doanya mungkin tidak seserius itu, hanya karena saya sedang benar2 terpuruklah saya mengajukan permintaan ini, saya minta, kalau suatu hari saya dipertemukan dengan seseorang lagi, saya ingin bertemu yang benar2 mirip dengan saya. mulai dari minat, bakat, bentuk badan, cara pikir dsb.
Minta yang mirip, biar ngobrolnya gampang, ga ribet *dasar doa orang desperate*. Dan bener dong, beberapa minggu setelah idul fitri, saya ketemu dengan orang ini. Yang mirip dari A ampe Z, cuma kelamin aja yang beda *YA IYALAH! PAKE DIBAHAS!*. Itulah makanya ya, jangan remehkan kekuatan doa bulan Ramadhan *melotot*, mengutip kata2 mbak2 Pussycat Dolls di lagunya “When I Grow Up”:
Be careful what you wish for
‘Cuz you might get it,
You might get it,
YOU MIGHT GET IT *tereak stress*
harusnya saya menganggap Pussycat Dolls lebih serius ya. cih. Nama emang suka menipu. Salah mereka juga pilih nama kayak gitu -_-.
nah lalu, harusnya seneng dong dapet kembaran?. Seneng. Ada temen sama2 suka nyanyi, suka MAKAN *harus banget dicaps*, suka nonton, suka belajar bahasa, sukunya juga nyerempet2 sama jadi obrolan nyambung, sifat sama positif maupun negatif, humoris terus orangnya sholeh pula kurang apa?
mungkin kalo dipikir2 kurang tepat kali ya waktunya *tangis darah*. pertanyaan2 skeptis di kepala ini ga bisa dikesampingkan gitu aja, yang terjadi di masa lalu ga bisa dilupakan gitu aja, dan akhirnya malah saya yang lari. Saya yang lari, karena saya takut. Takut disakitin dan…
setelah itu saya juga jadi takut menyakiti. Takut perasaan yang ada jadi 100% dan saya berbuat bodoh lagi. Takut kalau semuanya terlalu terburu2 lagi, dan kalau kata suka itu dikatakan semudah itu, maka rasa suka itupun kehilangan esensinya. Dan kalau suatu hari dia akhirnya mengenal saya dengan baik, kata suka itu akan hilang. dibatalkan, semudah membalik telapak tangan. Dan dia akan menyerah, akan melepaskan saya dengan mudah, karena di dalam hati bersyukur, akhirnya dia bisa melepaskan beban itu.
Tapi sungguh menjelaskan hal itu dengan kata2 pada waktu itu, bukanlah hal yang mudah. Saya sempat tertohok mendengar kata2 seorang sahabat : “kalau lo masih lebih suka bareng2 sama archamt, lebih berasa nyaman dan bebas bareng2 arhcamt, ketimbang sama dia, buat apa lo jadiin pacar? itu jahat namanya!” dan sayapun merasa sangat berdosa, karena saya mengulangi hal yang sama tanpa sadar, sekali lagi, hanya karena saya takut kehilangan orang ini. Saya belum siap untuk memulai hubungan baru, tapi saya takut orang ini pergi, karena itu saya berusaha untuk tidak memperdulikan apa yang saya rasa dan memutuskan untuk go for it.
Tapi ternyata ga bisa. Pada akhirnya yang kena imbas paling besar adalah dia. orang yang saya anggap baik dan saya hormati. Sayapun tersadar bahwa saya baru saja melakukan sesuatu yang benar2 jahat. Saya ga bisa membayangkan saya harus menjalani lagi perasaan yang sama saat itu, dengan start yang sama : belum benar2 mengenal satu sama lain tapi sudah memutuskan menjalin hubungan. Rasanya takut, benar2 takut sampe saya ga tenang tidur - ga tenang hidup selama beberapa hari *makan tetap tenang dong. selalu.*. Padahal harusnya saya hepi kan, kan baru jadian. Tapi enggak. semuanya terasa menakutkan.
Sayapun mulai cari2 alasan, dan akhirnya kamipun putus. Dan saya memutuskan untuk diam dan menghindar, karena sebesar apapun keinginan saya untuk menjelaskan, saya ga berani. bener2 ga berani. Beberapa kali, saya mendapat kesempatan untuk membangun kembali silaturahmi. Tapi saya ga bisa. Saya gaktau saya harus gimana. Terakhir kali saya papasan, tenggorokan saya tercekat, rasanya mau nangis, mata udah berkaca2, terus dadanya berasa ditancep2 kaktus, akhirnya malah keliatan kayak sombong, pura2 ga liat, padahal sebenernya saya tahu kalau harus nyapa. Tapi kalo waktu itu saya bersuara depan dia, pasti air mata ikut keluar dan kan ga lucu kalo gembeng di nikahan orang T-T *entar dikira selingkuhan gimanaaa??*. Waktu itu pernah sahabat saya maksa2 mau ngajak saya ikutan ketemu ma dia, karena kebetulan ada urusan ke kosan dia, saya literally nangis di mobil minta diturunin dulu di jalan, karena saya merasa sangat bersalah, padahal itu udah jalan setengah tahun.
Dan ya, saya bener2 diturunin di jalan dulu baru abis itu diangkut lagi begitu urusannya beres. huks. hukks T-T. norak ngepol, bikin malu T-T.
Saya norak dari ujung rambut sampe ujung kaki, norak luar dalam, saya tahu, padahal dia mungkin udah ga semikirin itu, tapi bener2 takut, ga bisa. Tiap diingetin soal dia, rasanya saya inget fakta bahwa saya segitu pengecutnya dan itu memalukan T-T.
Saya takut ketemu, simply karena, saya ga tahu saya harus ketemu dengan tampang apa. Harus ngomong apa. Apa saya harus tertawa pura2 ga terjadi apa2 sambil ketawa? atau saya boleh menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir sambil sujud2 minta maaf? apa dia akan mengerti? apa dia akan memaafkan? apa semuanya akan baik2 saja setelah itu? apa dia ga akan lebih sakit hati lagi? apa saya bisa ngomong tanpa buat dia tersinggung?
Saya ingin bisa ngobrol ringan lagi kayak dulu. Sekedar bercanda2, cerita2 soal film, tukeran rekomendasi tempat makan *harus*, liat orang ini nyanyi, masuk angin gara2 keasikan ngebut2 di jembatan pasupati T-T, dengerin orang ini gosip soal dosen, betapa dia sayang sama ‘geng’-nya di hometown sana. dengerin orang ini cerita soal rencana S2-nya, dengerin orang ini cerita soal calon ponakan yang sekarang uda berumur 1,2 bulan dan betapa dia segitu menantikannya sampe udah merencanakan nama panggilan T-T buat dia jauh2 hari sebelum ponakannya lahir. Mungkin setahun uda lewat tapi gue ga pernah lupa. Dan saya bersyukur saya pernah denger, karena ampe sekarang kalo diinget2 masih bikin ketawa.
Saya cuma pengen berteman kayak dulu :’(, mungkin suatu hari bisa jadi sahabat, tapi saya ga pernah tau caranya -_-. Saya ga pernah tau apa mantan bener2 bisa jadi sahabat di masa depan, karena sepanjang yang saya alami dan yang saya lihat dari pengelaman orang lain, ga pernah bisa, selalu ada sedikit rasa mengganjal. Tapi untuk orang ini, saya bener2 berharap itu mungkin terjadi. Akhirnya saya memutuskan untuk diam entah sampai kapan. Berharap suatu hari ada keajaiban.
Begitulah balada hidup kunang-kunang macam saya ini. Yang dirasakan dan dilihat begitu indah, tapi umurnya ga pernah lama. Selalu kandas dengan cepat :D. Dan saat pada akhirnya sudah cukup matang untuk menjelaskan, semua sudah terlambat, karena masa hidup kunang2, hanya berkisar 7-14 hari :).
Dan sekali lagi saya capek nyari lagi. jadi mungkin nanti2 aja kali ya -_-.
Oh ya, arhcamt dijadikan patokan karena kebetulan dalam konteks ini dia termasuk sahabat cowok terdekat saya ya. hahaha. Saya simply merasa bebas dan nyaman karena dia tau siapa saya luar dalem *uhh* dan dia masih tetep berada di samping saya sebagai sahabat sampai hari ini. :). ga perlu jadi orang lain kalo bareng dia, cukup jadi diri sendiri aja dan biarkan dia malu karena saya seringkali berbuat norak di depan umum. meski di luar marah2, di hati dia senang kok.
Sekian
Manda.






February 22nd, 2010 at 2:34 pm
hai lam kenal……
February 23rd, 2010 at 12:45 pm
saya mengikuti 6 blog 3 tahun belakangan ini..
dan salah satu nya blog kamu
February 24th, 2010 at 11:43 pm
@ nova imoet : hawwoooo
@ JK : *terharu* makasih JK. syukurlah blog ini masih ada yang baca T-T
February 25th, 2010 at 11:57 am
“di hati dia senang”?? think twice ya. haha. daripada ribet ngejelasin panjang lebar kasih aja link postingan ini, ntar dia tinggal baca kan. hohoho.
March 1st, 2010 at 7:45 pm
@arhcamt : ….Ternyata dirimu T-T. mana sopan. harus ngomong langsung kan = =